Berjarak 800 Km, Jakarta–Surabaya Teknologi e-Power Tidak Perlu Charging Baterai, Apa Kelebihannya?

admin


Ini yang menjadi keunggulan e-Power daripada mobil hybrid

Jakarta, Autos.id –  Teknologi e-Power yang dikembangkan oleh Nissan Motor Distribusi Indonesia (NMDI), menjadi salah satu best teknologi yang dimiliki oleh Nissan dibandingkan dengan competitor lainnya yang belum memiliki teknologi ini. Seperti pengetesan mobil e-Power Nissan dalam menempuh perjalanan darat Jakarta-Surabaya yang berjarak sekitar 800 km.

Tan Kim Piauw, selaku Direktur Sales dan Marketing NMDI mengungkapkan, idealnya setiap 300-an km, mobil hybrid harus melakukan charging untuk pengisian tenaga. Namun pada Nissan e-Power hal ini tidak perlu dilakukan.

“Karena e-Power ini, seluruh motor digerakkan oleh baterai, yang tidak perlu dichas karena di mobil terdapat engine kecil yang menggunakan bensin yang berfungsi untuk mencharging baterai yang berkurang tenaganya, ketika mesin sedang hidup. Untuk jarak sejauh apapun, Nissa e-Power Nissan tetap dikendarai dengan tenaga full electric,” imbuh Tan dalam press conference secara virtual di Jakarta baru-baru ini.

Mobil Nissan yang mengadopsi teknologi e-Power

Lebih lanjut Tan mengungkapkan, e-Power ini dapat membantu Indonesia 10 tahun ke depan yang masuk ke dalam fase full electric. Dan ke depannya Nissan juga sedang mempersiapkan kendaraan e-Power untuk menopang strategi Nissan di Indonesia.

Sementara itu, Bagus Susanto, sebagai Nissan Representative Director menjelaskan, teknologi e-Power sebetulnya termasuk ke dalam tenaga hybrid, namun struktur teknologinya berbeda. Seperti e-Power, di rancang bangun berdasarkan teknologi full battery electric vehicle.

“Ketika pertama kali Nissan meluncurkan e-Power pada Nissan Leaf pada tahun  2010. Kemudian Nissan mendapatkan feedback dari konsumen yaitu mereka akan  kesulitan dengan ketersediaan infrastruktur seperti charging station. Ini yang menjadi salah satu hambatan konsumen yang sebetulnya mendambakan kehadiran dan merasakan pengalaman mengendarai mobil listrik,” paparnya.

Dan dari sinilah, lanjut Bagus, engineering Nissan mengembangkan teknologi e-Power berdasarkan arsitektur mobil listrik. Dalam artian, kendaraan e-Power digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, yang kemudian dibenamkan mesin bensin yang berfungsi menggantikan teknologi charging external tersebut. Mesin bensin hanya berfungsi untuk charging baterai bukan untuk berkendara dan tidak membutuhkan kapasitas mesin yang besar.

Evensius Go, Presiden Direktur PT NMDI (Atas),, Tan Kim Piauw (kiri bawah) dan Bagus Susanto (kanan bawah)

Adapun untuk Hybrid, arsitektur teknologinya mengadopsi mobil konvensional dengan mesin bensin, jadi bagaimana mobil hybrid ini bisa efisiensi dalam penghematan bahan bakar. Maka dalam mobil bensin, dimasukkan motor listrik atau baterai, yang bisa menggerakkan kendaraan tersebut dalam kurun waktu tertentu. “Sehingga untuk teknologi hybrid, kendaraan tersebut digerakkan secara bergantian, antara mobil bensin dan motor listrik,” terang Bagus.

“Jadi disini jelas perbedaannya, pertama, e-Power tenaganya digerakkan oleh Full electric vehicle, sementara hybrid digerakkan berdasarkan mobil bensin biasa. Kedua dari performa kedua teknologi ini, karena e-Power digerakkan sepenuhnya 100% oleh motor listrik. Sedangkan untuk hybrid, dalam berkendara, konsumen kadang-kadang masih bisa merasakan oleh motor listrik pada awalnya yang kemudian dilanjutkan dengan mesin bensin biasa. Karena itu, kapasitas mesin pada mesin hybrid itu sangat penting,” pungkasnya.

 

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar

https://www.got.web.id/